STIR: Spiritual Transformation in Relationships [Resensi]

0
(0)

Pertumbuhan rohani dan keserupaan dengan Kristus tentu merupakan tujuan dan harapan dari semua bentuk pelayanan Kristen. Itu sebabnya, para pemimpin gereja dan lembaga pelayanan Kristen bertahun-tahun memikirkan metode dan program yang sesuai untuk diterapkan bagi pertumbuhan rohani jemaat dalam konteks pelayanan mereka. Persoalannya, setelah banyak program, bahan, dan metode dijalankan, tetap tidak mudah untuk menemukan pengalaman dan buah-buah transformasi rohani yang mendalam. Program, bahan, dan metode apa pun akan lambat laun ditemukan kekurangannya ketika diterapkan dalam konteks setempat, kemudian menghasilkan kebuntuan dan menyisakan pertanyaan: “Jadi, apa lagi yang cocok?”

Mindy Caliguire menganalisis bahwa mungkin persoalannya di sini adalah cara berpikir umum bahwa harus ada program, bahan, atau metode yang cocok “satu untuk semua.” Di dalam buku ini, Mindy kemudian mengajukan bahwa pertumbuhan rohani memang tidak dapat terjadi dalam program atau metode yang “satu untuk semua,” melainkan di dalam relasi-relasi yang intensional dengan orang-orang lain di dalam tubuh Kristus. Jika kehidupan setiap orang dilihat sebagai sebuah perjalanan rohani, maka konteks-konteks relasi yang terjadi dan menumbuhkan kehidupan setiap orang dapat sangat beragam jenisnya. Tentu saja, sebelum lebih jauh membahas konteks relasi apa saja yang dapat menghasilkan pertumbuhan rohani, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “pertumbuhan rohani” itu sendiri. Bagi Mindy di dalam buku ini, “pertumbuhan rohani” bukan sekadar perubahan perilaku atau peningkatan partisipasi seseorang di dalam gereja, melainkan perubahan pikiran, jiwa, hati, karakter, kehendak, bahkan emosi, ke arah yang semakin menyerupai Kristus. Pada akhirnya, orang-orang yang diubahkan semakin serupa Kristus, tidak mungkin tidak memberi diri bagi pekerjaan Allah.

Mindy sendiri merupakan salah satu bagian dari tim kepemimpinan gereja Willow Creek yang digembalai (dulu) oleh Bill Hybels. Setelah melakukan berbagai penelitian terhadap program pemuridan dan pertumbuhan jemaat gereja mereka, tim kepemimpinan ini mendapati tiga pertanyaan yang selalu muncul dan mendesak untuk dijawab, yaitu:

  1. Bagaimana kita beralih dari kelompok-kelompok kecil yang “satu ukuran untuk semua” ke format yang lebih efektif untuk orang-orang di semua tahapan pertumbuhan rohani?
  2. Bagaimana kita paling baik mengajarkan orang latihan-latihan rohani?
  3. Bagaimana kita memotivasi orang percaya dewasa untuk terus bertumbuh secara rohani?
    Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, menurut Mindy, adalah melalui relasi-relasi yang dipimpin oleh Roh Kudus. Relasi-relasi ini tidak terbentuk dengan sendirinya secara alami, melainkan perlu dipikirkan, ditetapkan, dan diupayakan dengan sengaja. Relasi-relasi ini pun berbeda-beda kadar dan jenisnya dalam proses kehidupan masing-masing. Meskipun demikian, ada dua unsur esensial yang harus ada dalam setiap relasi, yaitu: pengarahan (direction) dan kepekaan (discernment).

Di dalam buku ini, Mindy membagi konteks relasi pertumbuhan rohani ke dalam tiga tahapan: mengikuti bersama (learning together); menjalani bersama (journeying together); dan mengikuti bersama (following together). Dalam ketiga tahapan ini, selalu harus ada pengarahan (direction) dan kepekaan (discernment). Semakin awal tahapannya, semakin banyak pengarahan yang dibutuhkan; tetapi semakin maju tahapannya, semakin banyak kepekaan yang dibutuhkan dan semakin sedikit pengarahan. Berikut rangkuman dari tiap tahapan perjalanan:

TAHAP 1: MEMPELAJARI BERSAMA

  • Tujuan: Menegakkan keyakinan-keyakinan pokok, pengenalan Alkitab, dasar-dasar berelasi dengan Allah, dan dasar-dasar hidup Kristen.
  • Jenis relasi: banyak pengarahan dan lebih terstruktur; dipandu dengan aturan-aturan atau pedoman-pedoman tertentu yang lebih baku; meletakkan dasar-dasar penting iman Kristen.
  • Bentuk relasi/program: pendalaman Alkitab terpimpin, kelompok kecil untuk orang-orang yang mencari tahu tentang kekristenan, pembelajaran dasar iman Kristen, pertemuan rutin yang memungkinkan orang mendiskusikan kepercayaan dan keraguannya tentang iman.
  • Hal pokok yang perlu dipelajari: dasar-dasar Kitab Suci (apa itu, mengapa penting, bagaimana membacanya, untuk apa); keselamatan dan kasih karunia Allah, eksistensi Trinitas, otoritas Alkitab, kemurahan Allah, kasih Allah yang kekal, dan bagaimana manusia berelasi dengan Allah (termasuk belajar disiplin rohani dasar).
  • Ciri-ciri Pertumbuhan/Indikator Pencapaian: adanya kesadaran akan Allah, adanya keinginan pribadi untuk mengenal dan berelasi dengan Allah lebih dalam, adanya keterbukaan terhadap hikmat Allah dalam menjalani hidup, adanya sikap dan perilaku baru.
  • Kualitas pemimpin dan karunia rohani yang dibutuhkan: mampu memahami materi dan menjelaskan kebenaran dengan baik, bersedia menceritakan kisah pencarian imannya dan perjumpaan dengan Tuhan secara otentik, mudah didekati/ramah, mampu mengajar, mampu menggembalakan, mendorong dan memimpin orang lain (dalam lingkup kecil).
TAHAP 2: MENJALANI BERSAMA

  • Tujuan: Memiliki keakraban dengan kisah hidup seseorang, mengakui kehancuran diri, dan mengembangkan ketergantungan kepada Allah yang semakin besar melalui latihan rohani.
  • Jenis relasi: pengarahan dan kepekaan hampir berimbang. Pemimpin berfungsi untuk mengarahkan dan mengajar, tetapi juga mendampingi orang dalam proses batiniahnya.
  • Hal pokok yang perlu dipelajari: menemukan kebutuhan yang mendalam akan Allah dan menemukan kehidupan “interior” atau batiniah untuk menyelesaikan problem-problem penghalang pertumbuhan.
  • Ciri-ciri Pertumbuhan/Indikator Pencapaian: menerima kehancuran diri, adanya iman yang kuat, bebas dari masa lalu, makin menyadari kebutuhan akan kasih karunia Allah, mampu melihat pekerjaan Allah dalam hidup selama ini, berserah diri, taat pada Tuhan, bertumbuh dalam kerendahan hati.
  • Kualitas pemimpin dan karunia rohani yang dibutuhkan: Tidak asing dengan tujuan dan tindakan disiplin rohani yang bermanfaat bagi pertumbuhan iman; mampu menjelaskan dan menunjukkan cara melakukan disiplin-disiplin rohani; mampu menciptakan lingkungan relasional yang aman, dapat dipercaya, dan terbuka menerima kelemahan; mampu mengenali tanda-tanda kehadiran dan pekerjaan Allah dalam diri orang lain; terampil mengenali titik ketergantungan pada orang yang dibimbing; mampu melihat yang terjadi di dalam diri sendiri ketika mendengarkan orang lain; percaya bahwa Allah sedang dan terus bekerja dalam kehidupan orang lain; bersedia dan mampu menjadi pendoa bagi orang lain; mampu mengajar; mampu menggembalakan; mampu mendorong dan memimpin; memiliki kepekaan dan kemurahan hati.
TAHAP 3: MENGIKUTI BERSAMA

  • Tujuan: Membangun kehidupan yang semakin peka atas dasar pemahaman Alkitab yang mantap dan relasi yang kuat dengan Allah.
  • Jenis relasi: Banyak kepekaan dan sedikit pengarahan. Pemimpin bertindak lebih banyak sebagai sahabat atau pengarah rohani daripada sebagai guru.
  • Bentuk relasi/program: persahabatan rohani, pengarahan rohani (spiritual direction).
  • Hal pokok yang perlu dipelajari: mengenali apa yang sedang Allah kerjakan di dalam diri kita dan sekitar kita, serta bagaimana kita meresponsnya.
  • Ciri-ciri Pertumbuhan/Indikator Pencapaian: meningkatnya kesediaan orang untuk mengakui kesalahan dan bersikap jujur tentang aspek-aspek pergumulan dan dosa yang masih dialami; terbuka untuk mencari pertolongan ketika membutuhkan; meningkatnya komitmen untuk melibatkan dunia dalam pelayanan otentik; mampu menunjukkan kekuatan dan kelemahan diri dengan tepat; menerima penderitaan sebagai sarana kasih karunia Allah untuk pertumbuhan dan pemurnian diri; mampu terlibat dalam pelayanan yang menuntut pengorbanan; merasakan kepuasan karena dipakai Allah secara unik di dalam dunia ini.
  • Kualitas pemimpin dan karunia rohani yang dibutuhkan: Memahami sisi gelap diri sendiri dan mampu mendengarkan orang lain membicarakan sisi gelap mereka; mampu mengenali suara Yesus di dalam hidup sehari-hari dan menaatinya; memiliki iman yang kuat akan kehadiran Allah di dalam segala sesuatu; bersedia menyelesaikan tugas-tugas yang sulit; memiliki intensitas doa dan kepekaan yang meningkat terhadap peperangan rohani; mampu bertekun dalam penderitaan maupun pertentangan; mampu menggembalakan; mampu mendorong dan memimpin; memiliki kepekaan dan kemurahan.

Beberapa hal yang perlu diingat adalah: Pertama, meskipun relasi-relasi ini dapat diupayakan secara sengaja oleh pemimpin gereja, tetapi proses terjadinya dan keberlangsungannya merupakan karya Roh Kudus, sehingga kita tidak bisa memaksakan waktu, metode, dan kecepatan pertumbuhannya menurut ukuran manusia. Kedua, tiga tahapan ini bukan seperti kelas-kelas yang “lulus satu tahap kemudian naik ke tahap lain,” tetapi sangat mungkin terjadi beririsan, tumpang tindih, dan lebih dari satu dalam kehidupan orang percaya. Misalnya, seseorang yang secara rohani sudah sampai pada tahap “mengikuti bersama” dan mempunyai seorang mentor rohani pribadi yang akan selalu mendampingi perjalanan rohaninya; bisa saja masih merasa butuh untuk belajar kembali dasar-dasar iman Kristen untuk memperkuat pemahamannya. Jadi, daripada kita kemudian mengklasifikasikan “siapa sudah sampai tahap mana,” lebih baik kita berfokus menyediakan kemungkinan-kemungkinan terjadinya tiga konteks relasi ini, dengan cara misalnya menyiapkan pemimpin, menciptakan budaya pertumbuhan rohani, dan memperkuat relasi interpersonal di dalam gereja.

Judul Buku: STIR: Spiritual Transformation in Relationships  (Transformasi Rohani dalam Relasi)
Penulis: Mindy Caliguire
Penerjemah: Okdriati S. Handoyo
Penerbit: Katalis – Yys. Gloria, Yogyakarta (2019)
Ketebalan buku: 221 hlm.

Resensi oleh: Carmia Margaret, rohaniwan Gereja Kristen Immanuel (GKIm) Jemaat Hosanna

 

Seberapa artikel ini berguna?

Klik pada "bintang" untuk memberi nilai!

Nilai Rata² 0 / 5. Jumlah vote: 0

Belum ada vote! Jadilah yang pertama menilai.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Isikan dengan ANGKA *